Layang-layang Kuambil bulu sebatang Kupotong sama panjang Kuraut dan kupintal dengan benang Kujadikan layang-layang… Berlari… berlari… Bermain layang-layang… Bermain kubawa ketanah lapang… Hati gembira dan riang… Mendengar lagu itu, sekejap aku kembali teringat ketika kecil dulu, sebagai anak perempuan yang tomboy kadang selain bermain kelereng aku juga suka bermain layang-layang. Ayah dulu pernah mengajariku membuat layang-layang dari kertas Koran dengan bilahan tipis dari bambu dan benang jahit. Layangan tersebut tentu saja tidak pernah bisa terbang karena angin tak mampu menerbangkan kertas Koran yang tebal, tapi aku bangga sekali, itu layang-layangku sendiri. Dulu, tanah lapang dikampungku masih banyak, aku bisa bermain layang-layang bersama teman-teman. Kadang kami hanya menerbangkan layang-layang berwarna-warni namun sering juga kami saling mengadu layang-layang diudara, saling ulur, betot dan tarik. Lebih seru lagi jika ada layangan putus, anak-anak membawa tongkat bambu yang diujungnya diberi ranting kering untuk mengambil layangan putus yang terbang tak tentu arah. Tapi sekarang semua sudah jauh berbeda, tanah lapang sudah semakin tak bersisa. Semua jalan raya, semua perumahan, dan tak ada lagi tanah lapang untuk bermain layang-layang. Kadang aku sedih melihat anak-anak kecil tetanggaku, mereka bermain layang-layang diatap rumah dekat listrik, di jalan raya depan rumah. Sangat tidak aman. Dengan sedikitnya tanah lapang tidak heran suatu hari nanti layang-layang akan ditinggalkan. Menyedihkan ya? Itu anak-anak kecil tetanggaku, dimana kami masih memiliki rumah yang nyaman untuk beristirahat. Tidak semua anak seberuntung anak-anak kecil tetanggaku, masih banyak anak-anak yang tinggal di kolong Jembatan, dimana mereka akan bermain layang-layang? Atap rumah mereka adalah jalan, bukan awan. Disebelah rumah mereka adalah jalan, bukan tanah lapang, kemana mereka akan bermain apalagi bermain layang-layang, Mereka pasti sama dengan anak-anak tetanggaku bermain layang-layang di jalan raya. Dan jalan raya mereka lebih berbahaya daripada jalan raya yang ada di rumahku. Jalan didepan rumahku hanya sesekali mobil lewat namun kalo anak jalanan itu jalan raya mereka dilewati mobil-mobil besar setiap saat. Dan suatu saat karena semua keterbatasan itulah, mereka juga akan berhenti bermain layang-layang. Sebuah ironi tersendiri, ketika anak bangsa tak lagi mengenal permainan tradisional negeri sendiri. Itulah kenapa aku bahagia sekali ketika mendengar KKS Melati akan mengajak 100 anak jalanan untuk mengunjungi Museum layang-layang. Anak-anak jalanan adalah juga anak-anak Indonesia mereka sama seperti anak2 yang tinggal disekitar rumah kita. Mereka berhak tahu lebih banyak tentang layang-layang. Beruntung! Disebuah tempat diselatan Jakarta, ada sebuah museum layang-layang… Museum Layang-layang Sejak 2500 tahun yang lalu hingga saat ini permainan layang-layang tetap popular ditengah kemajuan teknologi. Dengan berbagai bentuk dan corak yang menarik. Layang-layang terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dari mulai yang berukuran 2 x 2 cm dari China hingga yang berukuran 22 x 24 m dari Jepang, bahkan Museum Rekor Indonesia (MURI) telah mencatat layang-layang dari Bali dengan panjang ekor 250 meter. Didaerah Pondok Labu, Jakarta Selatan, Sejak tahun 2003 telah berdiri museum layang-layang Indonesia. Begitu memasuki area museum, suasana hangat menyambut kedatangan setiap pengunjungnya. Nuansa rumah jawa begitu kental terasa, ada pendopo dan joglo juga taman-taman asri disekelilingnya. Ada banyak layang-layang disana dari berbagai daerah dinegara kita bahkan dari manca Negara. Besar dan Kecil. Di museum bagian luar dimana di eternitnya tergantung layang-;layang besar dari mancanegara kita juga dapat membuat layang-layang, dan didalam museum ada banyak layang-layang dari Negara Indonesia. Anak-anak itu pasti akan senang disana, mereka akan melihat layang-layang besar itu dan mereka akan membuat layang-layang seperti ketika ayah mengajariku dulu. Aku tak sabar menunggu hari itu….. hari ketika anak-anak jalanan itu akan pergi mengunjungi museum layang-layang dan aku kembali bernyanyi… kuambil buluh sebatang… kupotong sama panjang…… dan sebuah layang-layang kembali kuterbangkan menambah indahnya langit Jakarta[v] Museum Layang-Layang Indonesia Jalan H. Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta 12450, Indonesia Tel. 765 8075 Fax. 750 5112 www.merindokites.com OUTING ANAK JALANAN KKS MELATI CARI TAU YUKK!! 26 Juni 2005 Museum Layang-Layang – Hutan Wisata Kali Pesanggrahan Informasi lebih lanjut hubungi : Rini 0811188037 Dessy 0817755677 eVIe 08161109737 Kks_melati@yahoo.com |
I live in Jakarta-Indonesia and I want to create a better city with what I can do with all my heart with the courage that I have with love as much as I have..
Friday, June 17, 2005
Ke Museum Layang-layang yuk!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
wah, hebat, masih dengan lirik lagu layang-layang. sayangnya, waktu saya ingin tahu lebih banyak soal museum itu dari foto, tidak ada website yang memberikannya. bahkan website museumnya sendiri tidak berjalan. sedih...punya rekomendasi?
wah, hebat, masih dengan lirik lagu layang-layang. sayangnya, waktu saya ingin tahu lebih banyak soal museum itu dari foto, tidak ada website yang memberikannya. bahkan website museumnya sendiri tidak berjalan. sedih...punya rekomendasi?
Post a Comment