***
Rasanya satu jam adalah waktu yang cukup singkat untuk mengundang anak-anak kampung Pancoran untuk ikutan nonton Festival Film Jepang di Graha Bakti Budaya TIM hari Minggu, 20 Juli 2003 kemarin. Tapi dengan semangat 45 akhirnya berhasil dikumpulkan 50 orang anak-anak yang siap menonton. Kami dijemput dengan bis Metromini sumbangan dari Japan Foundation yang langsung ribut dan penuh sesak dengan anak-anak dan celotehannya. Mereka begitu bersemangat pergi ke TIM. Bagi mereka, nonton di TIM adalah yang pertama kali. Maklumlah, harga tiket karcis menonton film saat ini cukup tinggi.
Mega yang masih 7 tahun, agak malu-malu dan akhirnya sang ibu ikut menemaninya menonton. Sementara anak-anak yang lain sibuk berebut tempat duduk, kaum ibu di kampung ini juga sudah siap menunggu di depan gang siapa tahu kami mengijinkan mereka ikut pergi menonton. "Rin, ibu-ibu kapan gilirannya?" kata mereka. Waduh, repot sekali, meskipun sebenarnya mereka bisa saja ikut menonton karena film yang diputar ini gratis. Tapi masalahnya snack yang disediakan oleh Japan Foundation jumlahnya terbatas dan yang dikhawatirkan mereka menuntut jatah minuman dan snack itu, meskipun tidak seberapa harganya.
Ida datang dengan kakak dan adiknya. Mereka baru pertama kali itu pergi ke TIM. Ibunya sudah lama meninggal sedangkan ayahnya dulu bekerja sebagai tukang balon gas keliling tapi sekarang ia sudah tidak bekerja lagi. Ida dan saudara-saudaranya yang 5 orang lagi tidak bersekolah, sedang adiknya yang terkecil, bersekolah di SD. Kebetulan Pak RT yang membantu adiknya bersekolah. Sesampainya disana, Ida bertany,"Mbak, tempat ini namanya apa?" Oya, aku memang tidak memberitahukan secara spesifik didalam bis. "Nama tempat ini TIM, Taman Ismail Marzuki", kataku. Ida bilang, tamannya kok nggak ada, padahal nama tempat ini taman. "Tamannya yang mana, Mbak?" dan lantas membuatku tersenyum karena TIM memang menyisakan sedikit taman.
Film sore itu judulnya "Ayo Berjuang". Film yang bagus sekali dan benar-benar memberikanku inspirasi dan support. Cerita tentang perjuangan Etsuko seorang anak sekolah yang ingin sekali masuk klub dayung disekolahnya. Padahal klub dayung itu hanya untuk anak laki-laki. Etsuko lantas berpikir, jika tidak ada klub dayung untuk anak perempuan, kenapa tidak dibuat saja? Maka ia lantas mengumpulkan teman-teman perempuan untuk membentuk tim dayung itu. Latihannya berat. Seperti Michael Jordan yang sering gagal sebelum menang dan menjadi juara, seperti juga Colonel Sanders yang menawarkan resep ayam gorengnya ke 99 restoran, mengalami penolakan, tapi akhirnya dia mencoba lagi dan terus menang. Maka begitulah film ini.
Ditengah acara nonton itu, dari jauh terdengar suara tawa anak-anak. Mereka begitu menikmati film ini dan suara tawanya renyah sekali. Nikmat mendengarnya.
Aku terharu melihat perjuangan Etsuko dan bagaimana sedihnya ia menghadapi kekalahan, tapi ia terus berjuang, membentuk tim yang baik, dan meskipun tetap kalah, tapi ia tetap berjuang. Slow motion di plot akhir film benar-benar mengharukan. 100% Berjuang ! Membuatku berpikir, sudahkah aku berjuang segitu besarnya hari ini??
Terima kasih buat Mbak Diana dan Mbak Nurul dari Japan Foundation yang sudah memberikan 50 tiket gratis untuk Melati. Kapan-kapan kalo ada acara puter film lagi, ada bis dan ada snack terutama, tolong aku dikabari yaaa....
RN, 21 Juli 2004
No comments:
Post a Comment