***
Sari terbangun dari tidurnya pagi itu dan ia merengek-rengek memintaku menggendongnya keluar dari boksnya. Seperti anak-anak yang berumur 1 tahunan lainnya, ia begitu menggemaskan dan sulit sekali menolaknya untuk digendong. Sari senang sekali keluar dari boks tempatnya tidur dan ia yang mulai belajar jalan tertatih-tatih berlari kesana kemari dalam ruangan itu sambil tertawa-tawa. Ia adalah satu dari seorang anak yang tinggal di Panti Balita Tunas Bangsa 01 Cipayung, Jakarta Timur. Di kamar yang lain, ada 4 bayi yang sedang tidur. Casper, bayi cantik berambut tebal dan kulitnya putih adalah bayi yang baru sebulan tinggal di panti itu. "Ayahnya seorang polisi dan ibunya adalah istri muda polisi itu", kata seorang ibu yang merawat bayi itu. "Ia ditinggalkan di Rumah Sakit Pasar Rebo oleh orang tuanya", katanya lagi. Tidak jauh dari Casper, ada seorang bayi yang sedang tidur. Ah, aku lupa namanya. Tapi aku tidak lupa, bagaimana ceritanya sampai ia datang ke panti ini, "Bayi itu ditemukan di tong sampah dan beberapa minggu yang lalu ia sempat diberitakan di BUSER", kata perawatnya. Bayi itu mungil dengan pipi yang tembem. Tak habis pikir aku. Banyak keluarga muda yang saat ini tengah berjuang untuk mendapatkan seorang anak, tetapi dipanti ini, ada banyak anak yang dibuang begitu saja oleh keluarganya, seolah kehadirannya tidak dikehendaki. Padahal boleh jadi bukan salah anak-anak itu hadir di dunia ini. Semua karena kehendak Yang Maha Kuasa.
***
Tanggal 17 Agustus 2003 lalu, KKS Melati berkunjung ke Panti Asuhan Tunas Bangsa 01 Jakarta Timur. Selain menyalurkan sumbangan dana dari beberapa teman baik dan sejumlah sumbangan dari Komunitas Independen yang langsung diterima oleh Ibu Budi, kepala panti, kami juga merayakan ulang tahun Mbak Diah Anie, salah seorang relawan KKS Melati. Hari itu, panti asuhan balita penuh dengan relawan. Mereka membawa sumbangan yang dibelinya hari-hari sebelumnya dan beberapa paket makanan untuk anak-anak balita disana. Ruang bermain mendadak jadi penuh dengan tawa dan canda. Sari yang kemarin tampak sedih karena harus kembali ke boksnya, hari itu tertawa dan jadi rebutan para relawan.
Hari itu para relawan KKS Melati mengadakan perlombaan dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI. "Mau lomba apa?", tanya Koen yang hari itu dibajak untuk menjadi MC, padahal ia agak kurang sehat. "Aku mau lomba bendera! Aku mau lomba bendera!", kata Santi yang menggelengkan kepala karena tidak mau ikut lomba lainnya. "Aku... aku... aku mau nyanyi," kata Dita yang terlihat aktif dan tomboy sekali.
Lomba pertama adalah lomba makan kerupuk. Karena lupa membawa tali, akhirnya lomba makan kerupuknya dilakukan persis seperti orang sedang makan kerupuk. Aji dengan cepat menyelesaikan kerupuk yang dimakannya sambil teriak, "aku menang! aku menang!" dan makan Tango hadiahnya. Ia lantas sibuk mengumpulkan balon-balon yang ditiup oleh relawan kami dan memamerkan balon yang dikumpulkannya, "kak aku punya bunga balon... bagus kan kak"... Ia pun sibuk membawa balon-balonnya kesana kemari sambil tertawa-tawa. Lomba memindahkan bendera jadi lucu sekali. Lomba ini dibantu 4 relawan Melati yang memberikan bendera kepada anak-anak yang ikut lomba. "Benderanya ditaruh didalam ember ya", kata Koen sambil memberi semangat, sementara si Ucok kecil memperhatikan Koen dengan pandangan takjubnya, ia membantu memasukkan bendera-bendera yang jatuh adri ember. Kali ini Santi yang menang. Ia senang sekali dan lantas mengajukan diri untuk bernyanyi bersama Dita. Lagunya berjudul Pelangi. Lucunya, sulit sekali mengajari mereka menggunakan mic dengan benar. Akhirnya lagu Pelangi itu dinyanyikan dengan suara bersemangat dan menggebu-gebu. Kencaaaang sekali! Lomba memindahkan bendera ini akhirnya diulang sampai 3 kali karena banyaknya permintaan. Ternyata, memindahkan bendera adalah lomba favorit! Untung saja kami sudah menyiapkan lomba ini.
Seperti Santi, Dita juga tak kalah aktif. Ia berlomba mengumpulkan banyak sekali hadiah permainan yang semuanya makanan itu. Ia ikut bernyanyi dan bernyanyi lagi. Lagu balonku dinyanyikan Santi dan Dita adalah 2 dari 9 anak yang tahun ini sudah mulai masuk ke TK di dekat Panti. Hadiah peralatan sekolah dan kaos kaki menjadi hadiah yang menarik untuk mereka.
Lomba jalan sambil mengepit sebuah balon juga tak kalah lucunya. Anak-anak itu saling berebut balon yang akan dikepitnya. Kali ini Aji menjadi juara dan ia lantas mengepit 2 buah balon di lengan kanan dan kirinya sambil sebuah lagi dikepitnya diantara kakinya. Hei... ini pasti menarik untuk dilombakan! maka tak lama kemudian, beberapa anak berebut mendapatkan 3 buah balon untuk dikepit. Mereka berjalan seperti robot. Lucu sekali! Bahkan setelah lomba itu berakhir, Aji dan Coy salah satu relawan kami, masih sempat berjalan kesana-kemari beriringan dengan 3 balon yang mereka kepit, sementara Devy sibuk mengumpulkan balon sebanyak-banyaknya sampai tangannya tidak mampu memeluk balon-balon itu.
***
Seusai acara lomba, kami membagikan paket makanan dan minuman untuk anak-anak dan membantu mereka membuka bungkusannya. Ini adalah satu moment untuk berbagi. Inilah interaksi yang sangat ditunggu-tunggu antara relawan dan anak-anak balita di panti itu. Disudut sana, Meina sibuk membukakan makanan untuk seorang anak, sedang di belakang sana, Swan sibuk sekali bermain dengan 5 orang anak, seperti seorang Ayah dengan 5 anak-anaknya yang super aktif. Defi yang tidak mau lepas dari Sandi, terlihat menggelendot manja, sedangkan Rizki tampak mulai mengantuk terayun-ayun di ayunan belakang sana... Lucu sekali!
***
Anak-anak Panti Asuhan Balita memang menggemaskan. Dari merekalah kami bercermin dan belajar tentang kehidupan. Dari merekalah kita belajar bersyukur atas nikmat dan limpahan kasih sayang orang tua dan keluarga kami. Dari merekalah kami belajar untuk peduli dengan nasib mereka dan nasib anak-anak yang kurang beruntung lainnya.
Sayang tidak semua anak ada di Panti pada hari itu. Seperti weekend pada umumnya, bagi anak-anak yang sedang dalam proses adopsi, mereka "dipinjam" oleh calon orang tuanya untuk proses adaptasi. Senang sekali melihat mereka mengenakan baju baru dan sepatu baru dan digendong oleh "sang ibu" untuk berlibur. Proses adopsi ternyata tidak semudah yang dikira. Diperlukan kurang lebih satu tahun sampai sepasang orang tua dapat mengadopsi si anak. Itupun setelah mereka menjalani serangkaian pertimbangan dan persyaratan yang harus dilalui. Kami berharap ada lebih banyak lagi orang-orang yang berminat mengadopsi mereka. kami berharap mereka menemukan keluarga yang baik dan cocok dengan mereka.
Semoga saja.
Semoga malam itu mereka tidur dalam damai. Semoga malam itu mereka tidur dengan bahagia, karena ada segerombolan relawan yang siap berbagi kasih sayang dengan mereka. Karena ada yang peduli.
(RN, dari kegiatan relawan KKS Melati tanggal 17 Agustus 2003 ke Panti Asuhan Tunas Bangsa 01 Cipayung)===
No comments:
Post a Comment