Sabtu lalu 7 Juni 2003 kami sudah berada lagi di Rawa Terate. Di sebuah kampung yang terletak persis di belakang pabrik Krama Yudha Spare Parts di daerah Cakung. Kampung Rawa Terate ini dibentuk dan didirikan oleh para buruh dari lingkungan pabrik tersebut. Pada mulanya kawasan ini masih dikelilingi oleh sawah hijau membentang, namun sabtu lalu, kami banyak menemukan sawah terlantar yang tidak lagi ditanami karena sulitnya mendapatkan air bersih untuk irigasi.
Aliran air di kawasan tersebut telah berubah menjadi hitam legam, bercampur polusi. Masyarakat yang tinggal di kampung tersebut yang terdiri dari para buruh pabrik, termasuk istri dan anak-anak mereka, hidup dengan hirupan udara bercampur logam berat yang muncul dari ventilasi dan cerobong asap pabrik. Sayang, pasokan air bersih yang tempo hari sudah diusahakan Bobby, relawan kami, tampaknya sudah berhenti dipasok. Mungkin Bobby harus kembali lagi mengupayakan pasokan air bersih di tempat ini. Asap putih tebal keluar dari pabrik. Asap yang penuh dengan cemaran logam berat yg menyesakkan dada dan mengotori mata. Setahun lalu sewaktu kami berkunjung ke sana, asap itu tidak seberapa tebal.
Satu-satunya sekolah yang ada di kampung ini adalah sekolah SD yang terdiri dari 2 ruang kelas dengan kondisi seadanya. Disana hanya ada seorang ibu kepala sekolah yang juga merangkap sebagai satu-satunya Ibu guru bagi sekolah itu. Tidak jelas apakah ia melakukannya dengan sukarela ataukah Depdiknas membayarnya selayaknya seorang kepala sekolah bekerja di sebuah sekolah. Tidak jelas bagaimana anak-anak didiknya dapat naik kelas dan apakah bisa mereka diterima di sekolah yang lebih tinggi setingkat SMP nantinya. Bahkan tidak jelas apakah Depdiknas mengetahui keberadaan sekolah di kawasan itu.
Sejak banjir tahun lalu yang merusakkan bangunan sekolah dan merusakkan seluruh buku-buku sekolah yang mereka miliki, masyarakat di kampung ini saling bahu-membahu dan bergotong royong mendirikan kembali sekolah itu seadanya untuk masa depan anak-anak mereka. Saat ini mereka belum lagi memiliki buku baru untuk belajar dan masih memprihatinkan sekali nasib mereka untuk bisa bersekolah di tempat seperti ini. Banyak pertanyaan lagi yang timbul di benak kami ketika pertama kami berkunjung ke sana, namun kondisi sekolah itu telah membuka hati kami untuk memikirkan apa yang dapat kami lakukan untuk sekolah itu dan untuk anak-anak disana. Dengan komitmen bersama kami percaya bahwa kita dapat ikut membantu pengajaran di sekolah tersebut dan partisipasi anda semua sangat dibutuhkan untuk mewujudkan komitmen tersebut.
Pagi benar kami sudah tiba disana. Bahkan Bobby sudah tiba sejak jam 6.30 pagi. Memang hari itu Bobby yang mendapat giliran menjadi Project Officer kami dan melakukan koordinasi dengan sekolah SD Bintang Pancasila di sana yang hari itu akan mendapat kunjungan dari PT. Asuransi Multi Artha Guna (MAG) yang akan menyumbangkan peralatan sekolah. Setibanya kami langsung disambut dengan gembira oleh Ibu kepala sekolah, yang ternyata tidak melupakan kami. Padahal kunjungan Melati ke tempat itu sudah setahun yang lalu.
Hari itu, kami sumbangkan sebagian buku koleksi Melati untuk digunakan oleh sekolah itu. Setelah itu, segera saja kami gelar terpal baru, hasil jualan majalah tempo hari, persis di depan sekolah. Bobby langsung mengajak Tanya, Yasmin dan Rini masuk ke sekolah dan memperkenalkan mereka kepada adik-adik yang sedang ada di sana. Yasmin mengajari anak kelas satu menulis. Heboh dan ramai sekali. Semua anak mendadak ingin maju ke depan untuk menulis. Setiap anak ingin memamerkan tulisannya kepada Yasmin. Ibu guru yang satu ini senang sekali. Senyum tidak lepas dari wajahnya. Semakin banyak acungan telunjuk anak-anak itu, Yasmin semakin giat mengajar. Demikian pula di kelas sebelah. Tanya sibuk mengajari matematika. Ibu guruku hari ini cantik sekali, kata seorang anak di kelas Tanya sambil sibuk memperhatikan Tanya. Segera pelajaran matematika serasa mudah dicerna.
Usai mengerjakan matematika dan menulis, anak-anak itu langsung berhamburan keluar kelas dan mulai sibuk memilih buku. Bukan main ributnya mereka memilih buku yang mereka inginkan. Sang kepala sekolah mengatakan bahwa anak didiknya suka dengan buku dongeng dan cerita rakyat, karena mereka bisa belajar dari tokoh yang ada dalam ceritanya. Kadang, untuk pelajaran Bahasa Indonesia, sang guru mengajak anak-anak itu untuk menceritakan kembali buku yang sudah dibacanya dan mengajaknya bejalar kebaikan dan keburukan sang tokoh. Sungguh sangat mendidik. Pantas saja, hari Sabtu itu mereka menyerbu buku cerita rakyat dan dongeng. ada yang membacanya kencang-kencang, ada yang membacanya perlahan. Ada yang mencari banyak gambar, ada pula yang menyenangi komik. (Mereka mencari komik kapten Tsubasa, sayang kami tidak punya, akhirnya Doraemon pun dilahap juga).
Lucunya ada juga yang memaksa membaca buku cerita bergambar berbahasa Inggris, meskipun mereka tidak mengerti. Ia dan temannya sibuk mengartikan kata-kata yang ada dibuku tersebut sambil garuk-garuk kepala. Tapi tetap dibacanya juga dengan kencang, meskipun bingung dan aneh. Akhirnya Rini mendongengkan cerita dalam buku itu kepada mereka. Ceritanya tentang seorang anak yang ketika bangun pagi, badannya berubah menjadi kecil, tetapi ia tidak sedih hati dan terus bekerja dengan riang gembira. Mereka mengulang cerita itu kepada kawannya yang lain. Sementara di sudut sana, Yasmin sibuk mendongeng. Anak-anak yang ada di sekitarnya langsung berhenti membaca dan mendengarkan ceritanya. Ia terlihat asyik sekali dan sesekali tawa anak-anak itu terdengar, menikmati dongengannya. Disudut sana, Tanya sibuk membacakan buku untuk seorang anak kecil yang tidak mau membaca buku sendiri. Sementara Bobby sibuk menghubungi Pak RT dan menunggu teman-teman dari MAG yang datang agak terlambat.
Teman-teman MAG datang dengan sumbangan yang banyaaaak sekali. Kami sampai takjub melihatnya. Ada peta Indonesia, papan tulis dan kapurnya, cat dan peralatannya, dan lampu-lampu yang akan disumbangkan untuk sekolah dan aneka peralatan sekolah untuk dibagikan ke 78 anak di sekolah itu. Tidak lupa ada kue-kue dan bubur kacang hijau yang langsung dinikmati dan habis diminum oleh anak-anak itu. Mereka senaaaaang sekali dan kenyang!
Terima kasih untuk MAG yang telah membantu sekolah ini. Jangan lupa, sekolah ini hanya satu dari sekian sekolah di Jakarta yang layak untuk dibantu. Program kami selanjutnya adalah berkunjung ke sebuah sekolah di kawasan Marunda, SD Pantai Makmur 03. Kami berharap MAG dapat pula mensupport kami juag untuk membantu sekolah di Marunda itu juga.
Sudah dua kali kunjungan KKS Melati, sebuah Kelompok Kerja Sosial yang terdiri dari relawan muda, ke Rawa Terate dengan taman bacaan keliling yang mereka miliki. Luar biasa antusias anak-anak di SD Bintang Pancasila ini akan buku cerita. Mereka begitu haus akan buku pengetahuan dan bacaan serta begitu senang dengan dongeng yang disampaikan oleh relawan KKS Melati.
Semoga melalui kegiatan ini, kami dapat menularkan "Virus" empati kepada rekan-rekan yang lain, untuk membuat Jakarta menjadi lebih baik dan bersama-sama bergandengan membantu mereka yag membutuhkan!
RN,20 Agustus 2003
No comments:
Post a Comment